Di Jual Tanah Kavelinga
Posisi Kavelingan di Jalan Srikandi Km.10 Sorong Papua Barat
Posisi Tanah Rata
Letak di Dataran Tinggi
Bebas Banjir
Aman dan Ramai Penduduk
Surat - surat Lengkap
Brosur Tanah
Untuk Pemesanan dapat mengbungi kami
blog untuk tempat berbagi ilmu pengetahuan
blog untuk membagi tempat - tempat yang bagus untuk liburan
blog untuk tempat shering ilmu internet
blog untuk membagi bisnis internet
tempat berbagi, mencari ilmu, membagi rezeki dan mencari uang
Di Jual Tanah Kavelinga
Posisi Kavelingan di Jalan Srikandi Km.10 Sorong Papua Barat
Posisi Tanah Rata
Letak di Dataran Tinggi
Bebas Banjir
Aman dan Ramai Penduduk
Surat - surat Lengkap
Brosur Tanah
Untuk Pemesanan dapat mengbungi kami
Prosedur audit adalah pemeriksaan terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku.
Setiap auditor memiliki prosedur dan standar audit yang mesti dilakukan, contohnya prosedur audit piutang, prosedur audit utang usaha, dan prosedur audit persediaan.
Dan kali blog manajemen keuangan akan membahas tentang prosedur audit utang jangka pendek.
Yuk langsung saja ikuti pembahasannya berikut ini…

Apa tujuan audit kewajiban atau utang jangka pendek?
Sebagaimana kita pahami bahwa tujuan audit utang jangka pendek antara lain:
Bagaimana prosedur audit kewajiban atau hutang jangka pendek perusahaan?
Berikut ini 20 prosedur audit atas liabilitas jangka pendek:

Pelajari dan evaluasi internal control atas liabilitas jangka pendek
Untuk melakukan prosedur pertama ini, auditor bisa menggunakan daftar pertanyaan, flow chart, atau penjelasan narrative.
Daftar pertanyaan dapat digunakan karena utang usaha merupakan bagian dari siklus pembelian, utang usaha, dan pengeluaran kas.
Penjelasan narrative prosedur pembelian, utang usaha dan penerimaan kas adalah dengan membuat penjelasan prosedur yang harus dilakukan pada tiap bagian.
Misalnya bagian gudang, bagian pembelian, bagian akuntansi, dan bagian keuangan.
Contoh flow chart untuk prosedur silahkan baca di : SOP Manajemen Distribusi
Bila dari evaluasi internal control atas liabilitas jangka pendek, auditor menyimpulkan bahwa internal controlnya baik dan berjalan efektif.
Maka substantive test atas utang usaha jangka pendek bisa dikurangi, atau dengan kata lain, ruang lingkup pemeriksaan bisa dibatasi.
Minta rincian dari semua kewajiban jangka pendek, kemudian periksa footing dan cocokkan saldo kewajiban jangka pendek di buku besar.
Perlu diperhatikan bahwa rincian-rincian tersebut harus disiapkan oleh perusahaan yang akan diaudit, bukan oleh auditor. Tugas auditor adalah memeriksa rincian tersebut, BUKAN menyusun rincian.
Bila rincian yang diberikan perusahaan tidak cocok dengan saldo buku besarnya atau terdapat kesalahan footing, maka auditor harus mengembalikan rincian tersebut untuk diperbaiki.
Rincian lain yang sebaiknya diminta antara lain : rincian biaya yang masih harus dibayar, kewajiban lain dan utang pajak.

Untuk utang usaha cocokan masing-masing pemasok dengan saldo menurut subsidiary ledger utang usaha.
Bila jumlah pemasok banyak pencocokan ke subledger bisa dibatasi jumlahnya.
Bila ditemukan perbedaan antara saldo dirincian utang usaha dan saldo di sub ledger utang usaha, maka auditor harus meminta ke perusahaan untuk mencari penyebab perbedaan tersebut.
Lakukan Test Sampling dan akurasi perhitungan
Periksa bukti pendukung dari saldo utang beberapa pemasok, perhatikan apakah angkanya cocok dengan purchase requisition, PO, laporan penerimaan barang, dan invoice pemasok.
Periksa juga akurasi perhitungan matematis dari dokumen-dokumen tersebut dan otorisasi dari pejabat perusahaan yang berwenang.
Seandainya terdapat monthly statement of account dari supplier, maka harus dilakukan rekonsiliasi antara saldo utang menurut statement of account tersebut dengan saldo subsidiary ledger utang.

Pertimbangankan untuk mengirim konfirmasi kepada beberapa pemasok yang saldonya besar maupun yang saldonya tidak berubah sejak tahun sebelumnya.
Auditor tidak harus mengirim konfirmasi untuk utang usaha, karena sumber pencatatan utang usaha berasal dari luar perusahaan.
Misalnya faktur pembelian, dan tujuan konfirmasi adalah untuk memeriksa keakuratan data akuntansi perusahaan.
Jadi berbeda dengan konfirmasi PIUTANG yang merupakan prosedur audit standar yang harus dilakukan oleh auditor.
Apalagi jika sebagian besar pemasok terbiasa untuk mengirim monthly statement of account, maka auditor hanya perlu mencocokkan saldo utang usaha menurut rincian dengan saldo menurut monthly statement of account tersebut.
Periksa pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca) untuk mengetahui apakah ada unrecorded liabilities per tanggal laporan neraca dan untuk menyakinkan diri mengenai kewajaran saldo utang per tanggal laporan posisi keuangan.
Caranya dengan me-review buku pengeluaran kas sesudah tanggal laporan neraca sampai mendekati tanggal selesainya audit lapangan.
Perhatikan apakah ada pembayaran di periode sesudah tanggal laporan neraca yang menyangkut pembelian atau biaya untuk tahun yang diperiksa yang belum dicatat sebagai liabilitas jangka pendek per tanggal laporan neraca.
Periksa juga notulen rapat direksi, pemegang saham, dewan komisaris untuk mengetahui apakah ada kewajiban perusahaan, seperti pembagian bonus tahunan, yang akan dicatat pada periode berikutnya dan belum dicatat sebagai liabilitas per tanggal laporan neraca.
Auditor harus memeriksa bukti-bukti pembayaran di subsequent period yang berkaitan dengan kewajiban yang terjadi di tahun yang diperiksa.
Bila ada utang kepada bank dalam bentuk kredit modal kerja, kredit investasi, maupun kredit overdarft.
Maka kirim konfirmasi ke bank, periksa surat perjanjian kreditnya dan buatkan excerpt-nya dari perjanjian kredit tersebut, serta periksa otorisasi dari direksi untuk perolehan kredit bank tersebut.

Jika ada utang dari pemegang saham, dari direksi atau dari perusahaan afiliasi yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun yang akan datang.
Bila ada utang leasing, periksa apakah pencatatannya sudah sesuai dengan standar akuntansi tentang sewa.
Periksa perhitungan dan pembayaran bunga, apakah sudah dilakukan secara akurat dengan jumlah yang tercantum pada laporan laba rugi.
Bila ada saldo debit dari utang usaha maka harus ditelusuri apakah ini merupakan uang muka pembelian atau karena adanya pengembalian barang yang dibeli tapi sudah dilunasi sebelumnya.
Bila jumlahnya besar harus direklasifikasi sebagai piutang.
Bila ada uang muka penjualan per tanggal laporan keuangan periksa bukti pendukungnya dan periksa apakah saldo tersebut sudah diselesaikan di periode berikutnya.
Misalnya dengan mengirimkan barang yang dipesan oleh pembeli.
Bila ada kredit jangka panjang, harus diperiksa apakah bagian yang jatuh tempo satu tahun yang akan datang sudah direklasifikasi sebagai liabilitas jangka pendek.
Bila ada kewajiban dalam mata uang asing. Periksa apakah saldo tersebut per tanggal laporan neraca telah dikonversikan dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia – BI per tanggal laporan keuangan dan selisih kurs yang terjadi dibebankan pada laba rugi tahun berjalan.

Untuk utang PPh 21 dan PPN, periksa apakah utang tersebut sudah dilunasi pada periode berikutnya.
Seharusnya utang PPh 21 dan PPN per 31 Desember dilunasi di bulan Januari tahun berikutnya.
Sedangkan untuk PPh badan harus diperiksa apakah pada waktu mengisi dan memasukkan SPT PPh Badan, perusahaan telah membayar PPh 29 (setoran akhir)
Periksa dasar perhitungan accrued expenses yang dibuat oleh perusahaan, apakah masuk akal dan konsisten dengan dasar perhitungan tahun sebelumnya.
Selain itu harus diperiksa pembayaran sesudah tanggal laporan neraca.
Perlu diketahui bahwa untuk MEMPERKECIL LABA, bisa saja perusahaan memperbesar jumlah accrued expenses-nya.
Dengan memeriksa pembayaran sesudah tanggal laporan neraca, auditor bisa mengetahui apakah jumlah yang di accrued expenses betul-betul dibayar di tahun berikutnya dalam jumlah yang kurang lebih sama.
Selain itu bisa juga diketahui seandainya ada biaya-biaya tahun yang diperiksa yang belum dicatat di periode sesudah tanggal laporan neraca sehingga harus diusulkan audit adjustment-nya oleh auditor.

Periksa juga notulen rapat direksi, pemegang saham, dan perjanjian-perjanjian yang dibuat perusahaan dengan pihak ketiga.
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah semua kewajiban yang tercantum dalam notulen dan perjanjian tersebut sudah dicatat per tanggal laporan neraca.
Kirim konfirmasi kepada penasehat hukum perusahaan
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah perusahaan mempunyai masalah di bidang hukum yang memerlukan bantuan dari legal consultant.
Misalnya, ada tuntutan di pengadilan yang per tanggal laporan neraca prosesnya belum selesai.
Hal ini menimbulkan contingent liabilities, yaitu liabilitas yang mungkin terjadi, mungkin juga tidak terjadi tergantung pada kejadian dalam periode berikutnya.
Periksa apakah penyajian liabilitas jangka pendek di laporan neraca dan catatan atas laporan keuangan sudah sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.
Dengan kata lain, audit laporan keuangan, apakah sesuai dengan SAK yang berlaku?
Dan untuk melengkapi pembahasan tentang prosedur audit utang jangka pendek ini, Anda bisa mendengarkan audio berikut ini…
Utang atau kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang timbul karena transaksi pembelian.
Misalnya pembelian bahan baku (raw material), bahan pelengkap, dan bahan pembantu lainnya.
Transaksi-transaksi tersebut perlu di audit agar tidak ada penyimpangan serta accountable.
Dan di atas telah dijelaskan secara lengkap prosedur audit kewajiban jangka pendek beserta contoh-contohnya.
Demikian yang dapat kami sampaikan pembahasan manajemen audit tentang 20 audit procedure liablitas jangka panjang.
Semoga bermanfaat. Terima kasih.*****
Neraca adalah salah satu jenis Laporan Keuangan selain Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Modal, dan Laporan Arus Kas. Maka perusahaan perlu membuat neraca.
Dari Neraca kita dapat mengetahui jumlah aset, utang, dan modal perusahaan. Ketiga komponen ini dapat naik dan turun tergantung dari kinerja atau performa perusahaan.
Bagaimana cara membuat laporan neraca? Apakah sulit membuat neraca?
Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, saya akan menjelaskan lebih dahulu tentang pengertian neraca dan contohnya.

Cara untuk mengetahui kinerja perusahaan kita bisa melihat dari Laporan Laba Rugi, selengkapnya dapat dibaca di artikel tentang Pengertian dan segala hal mengenai Laporan Laba Rugi.
Seperti yang kita pahami, bahwa tujuan kita membuat perusahaan atau melakukan aktivitas bisnis adalah untuk memperoleh LABA.
Namun dalam perjalanan selama periode tertentu, misalnya satu tahun, perjalanan bisnis tidak selamanya lancar seperti jalan tol 🙂
Namun terkadang ada hal-hal atau kejadian yang tidak kita inginkan, Misalnya nih perekonomian menurun, fluktuasi nilai tukar rupiah dan lain sebagainya.
Sehingga perusahaan bisa mengalami kerugian dan untung. Kondisi ini akan mempengaruhi neraca keuangan perusahaan, misalnya kas turun, modal juga turun, utang menggunung.
Oleh karena itu penting mengetahui apa itu neraca, bentuk, dan isi neraca “biar nggak mati rasa” 🙂
Jadi apa yang dimaksud neraca keuangan perusahaan?
Seperti telah disinggung dalam paragraf sebelumnya, pengertian neraca adalah sebuah Laporan Keuangan yang menyajikan kondisi aktiva, hutang, dan ekuitas pada waktu tertentu.
Untuk memudahkan pemahaman tentang pengertian neraca, berikut ini kami sajikan pembahasan mengenai: 1) format neraca, dan 2) contoh neraca.
Bagaimana format neraca keuangan perusahaan?
Perhatikan gambar ilustrasi berikut:

Gambar di atas merupakan ilustrasi format neraca. Dari gambar tersebut, kita dapat melihat bahwa ada 3 elemen yang menyusun sebuah neraca, yaitu: Asset (Aset), Liability (kewajiban), dan Equity (modal).
Jumlah aset HARUS SAMA dengan jumlah liability dan equity.
Format tersebut berasal dari persamaan dasar akuntansi, yaitu:
Jadi clear ya, kenapa format laporan neraca seperti itu?
Bagaimana aplikasi nyata dari format neraca yang sudah dibahas sebelumny?
Agar tidak dikatakan sebagai hoax, teori doang, click bait, apalagi bohong 🙂 maka berikut ini kami sajikan neraca dari sebuah laporan keuangan perusahaan tbk, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk.
Contoh laporan keuangan ini sudah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) dengan opini wajar dan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia:





Perhatikan contoh neraca di atas. Acuannya adalah persamaan akuntansi dasar, jadi jumlah aset sama dengan jumlah kewajiban ditambah jumlah modal.
Apakah laporan neraca di atas sudah sesuai dengan persamaan dasar akuntansi?
Yuk kita tengok jumlah masing-masing elemen neraca PT Semen Baturaja (Persero) Tbk.
Jumlah Liabilitas jangka pendek Rp 668.827.967, jumlah liabilitas jangka panjang Rp 978.649.421, sehingga total liabilitas adalah Rp 1.647.477.388
Sedangkan jumlah ekuitas Rp 3.412.859.859. Sehingga jumlah liabilitas ditambah ekuitas adalah sebesar Rp 5.060.337.247.
Bila angka-angka tersebut dimasukkan dalam persamaan dasar akuntansi adalah sebagai berikut:
Contoh lain dapat anda baca di 10 Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Tbk yang Sudah Diaudit.

Bagaimana cara membuat neraca?
Setelah mengetahui format dan contoh neraca, sekarang waktunya untuk membuat neraca. Ada 3 cara tidak biasa dan mudah yang akan membantu anda saat membuat neraca, yaiu:
Cara membuat neraca usaha kecil yang pertama adalah mempelajari, memahami, dan menguasai penerapan mengenai konsep dan pengertian aset/aktiva.
Logikanya gini mas, bagaimana kita akan bisa menyajikan aset dalam format neraca yang sudah kita ketahui kalau kita tidak tahu pengertian aset, karakteristik aset, apa saja yang termasuk aset, dan segala hal tentang aset.
Betul kan?
Lalu apa sih pengertian aktiva/aset?
Menurut FASB dalam Elements of Financial Statement of Business Enterprises menyatakan bahwa aset atau aktiva adalah manfaat ekonomis yang akan diterima perusahaan di masa yang akan datang karena transaksi di masa lalu.
Ada 2 jenis aktiva, yaitu aktiva lancar (current asset) dan aktiva tetap (fixed asset)
Aset lancar adalah aset yang akan direalisasikan dalam satu siklus bisnis perusahaan. Yang termasuk aset lancar antara lain:
Cara melaporkan elemen-elemen aset lancar dalam neraca adalah disusun berdasarkan tingkat likuid aset tersebut. Dimulai dari yang paling likuid, selanjutnya diikuti dengan elemen-elemen aset yang kurang likuid dibawahnya.
Pengertian aset tetap adalah aset yang bersifat jangka panjang atau secara relatif memiliki sifat permanen serta dapat digunakan dalam jangka panjang.
Aset ini merupakan aset berwujud karena memiliki bentuk fisik. Aset ini dimiliki dan digunakan perusahaan dan tidak dijual sebagai bagian dari kegiatan operasi normal.
Nama lain untuk aset tetap dalam bahasa Inggris adalah plant assets; property, plant, and equipment (PPE).
Yang termasuk aset tetap antara lain: tanah, gedung, kendaraan, perabot, mesin, dan peralatan. Cara menyajikan aset tetap pada neraca dimulai dari yang umurnya paling lama, selanjutnya disusul dengan yang umurnya lebih pendek.
Aset tetap suatu perusahaan dapat menjadi bagian signifikan dari jumlah total asetnya. Perhatikan tabel berikut:

Tabel di atas menunjukkan contoh persentase aset tetap terhadap jumlah aset untuk beberapa perusahaan yang dibagi berdasarkan perusahaan jasa, manufaktur dan dagang.
Pada tabel di atas kita dapat melihat aset tetap di kebanyakan perusahaan memiliki proporsi yang signifikan terhadap jumlah aset.
Sebaliknya Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), sebuah perusahaan perbankan tidak tergantung pada aset tetapnya dalam menyediakan jasa untuk nasabahnya.

Cara tidak biasa untuk membuat neraca usaha kecil adalah mempelajari, memahami, dan menguasai konsep serta pengertian liability.
Liability atau kewajiban merupakan elemen kedua dalam neraca (lihat format neraca). Oleh karena itu agar kita bisa membuat neraca usaha kecil dengan mudah maka harus memahami elemen ini.
Yang termasuk dalam kewajiban antara lain: kewajiban lancar (hutang lancar), kewajiban jangka panjang, pendapatan yang diterima di muka, dan hutang lainnya.
Saat sebuah perusahaan atau bank memberikan fasilitas kredit, sama artinya dengan memberikan pinjaman.
Perusahaan, bank, atau individu yang memberikan pinjaman disebut kreditur atau pemberi pinjaman. Individu atau perusahaan yang menerima kredit disebut debitur atau peminjam.
Utang merupakan kewajiban untuk membayar yang dicatat sebagai kewajiban atau liabilitas (liability).
Bank dan lembaga keuangan lainnya memberikan pinjaman atau kredit kepada para konsumen untuk pembelian berbagai macam barang.
Sebagai contoh adalah J.CO Donuts, sebuah jaringan bisnis donat dan kedai kopi (kafe/caffee) di Indonesia yang memiliki lebih dari 40 outlet di seluruh Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
J.CO Donuts menggunakan kredit usaha jangka pendek/utang usaha untuk membeli bahan-bahan baku pembuatan donuts di masing-masing kedainya.
Kredit jangka pendek memungkinkan J.CO Donuts untuk mengendalikan pembayaran tunai dengan memisahkan fungsi pembelian dari fungsi pembayaran.
Dengan demikian tanggungjawab karyawan yang membeli bahan baku donat dipisahkan dari tanggungjawab karyawan yang membayar pembelian tersebut.
Pemisahan tugas semacam ini dapat membantu mencegahpembelian atau pembayaran yang tidak sah.
Hutang atau Utang jangka panjang adalah utang yang pelunasannya lebih dari satu tahun, dan pelunasannya tidak menggunakan sumber-sumber yang digolongkan sebagai aktiva lancar.
Contoh hutang jangka panjang antara lain: utang obligasi, utang wesel jangka panjang dan utang lain-lain jangka panjang.
Pengertian pendapatan yang diterima di muka adalah adalah penerimaan yang bukan merupakan pendapatan untuk periode bersangkutan.
Status sebagai pendapatan yang diterima di muka akan terus bertahan sampai saat penerimaan tersebut diakui sebagai pendapatan.
Bagaimana cara mencatat pendapatan yang diterima di muka setelah diakui sebagai pendapatan?
Caranya dengan menggunakan ayat jurnal penyesuaian.
Bila tidak dilakukan penyesuaian terhadap pos ini, maka laporan laba rugi yang dibuat kurang mencerminkan kondisi sebenarnya. Selengkapnya dapat dipelajari di konsep dan pengertian jurnal penyesuaian

Langkah ketiga dalam membuat neraca dengan cara yang tidak biasa adalah dengan mempelajari, memahami, dan menguasai konsep serta pengertian equity (ekuitas).
Pengertian equity / ekuitas / modal adalah hak milik suatu perusahaan yang tersisa setelah dikurangi kewajiban (liabilitas).
Yang termasuk dalam ekuitas antara lain: modal disetor, laba tidak dibagi, modal penilaian kembali, modal sumbangan, modal lain-lain.
Penjelasan dari masing-masing elemen equity tersebut adalah sebagai berikut:
Modal disetor adalah modal yang disetorkan oleh pemegang saham.
Laba tidak dibagi adalah akumulasi laba tidak dibagi dari periode-periode akuntansi sebelumnya.
Modal penilaian kembali adalah modal yang diperoleh dari selisih antara nilai buku lama dengan nilai buku yang baru saat perusahaan melakukan penilaian kembali terhadap aktiva perusahaan.
Modal sumbangan adalah modal yang diperoleh dari sumbangan.
Modal lain-lain adalah modal perusahaan yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori-kategori sebelumnya.
Setelah kita memahami elemen penyusun neraca yaitu aset, liabilitas (liability), dan ekuitas (equity), langkah selanjutnya adalah menyajikan elemen-elemen tersebut ke dalam format neraca yang sudah dipelajari di atas.
Dan setelah semua elemen neraca tersebut lengkap maka selesai sudah neraca keuangan usaha kecil yang merupakan salah satu dari 4 jenis laporan keuangan.
Mudah kan?
Dari pembahasan artikel ini, dapat disimpulkan bahwa untuk membuat neraca intinya adalah pertama, pahami format atau bentuk neraca.
Berikutnya pelajari, kuasai, dan pahami elemen-elemen yang menyusun neraca, dan yang terakhir adalah menyajikan elemen-elemen tersebut sesuai dengan format neraca.
Mudahan-mudah bermanfaat, dan terima kasih. *****
Kesalahan penyusunan Laporan Keuangan dapat dilakukan dengan Jurnal Koreksi.
Manfaat jurnal koreksi adalah untuk memperbaiki 10 kesalahan umum yang terjadi saat menyusun Laporan Keuangan.
Kesalahan itu timbul karena disengaja atau tidak.
Kesalahan-kesalahan itu HARUS diperbaiki agar data yang dihasilkan dan akan dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan penting dan strategis tidak KELIRU.
Apa saja 10 kesalahan itu, dan bagaimana cara memperbaikinya?
Ikuti ulasan lengkapnya berikut ini…

Perhatikan contoh berikut:
Persediaan barang PT MCC tanggal 31 Desember 2018 terlalu kecil senilai Rp 20.000.000.
Bila kesalahan pencatatan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2019, maka kekeliruan ini perlu diperbaiki.
Jurnal koreksi persediaan barang dagang untuk memperbaiki kesalahan pencatatan seperti ini adalah sebagai berikut:

Bila kesalahan ini baru diketahui setelah tutup buku 2019, maka tidak perlu dibuat jurnal koreksi.
Mengapa seperti itu?
Karena pencatatan persediaan yang terlalu kecil pada 31 Desember 2018 sudah diperbaiki dengan kesalahan persediaan barang dagang di awal tahun 2019 yang pencatatannya terlalu besar.
Jelas ya? Okay dilanjut…

Perhatikan contoh berikut:
PT MCC baru mencatat persediaan barang dagang senilai Rp 15.000.000 tahun 2019.
Padahal barang dagang tersebut dibeli pada tahun 2018.
Bila kesalahan pencatatan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2019, maka perusahaan perlu membuat jurnal koreksi persediaan untuk memperbaiki kesalahan ini sebagai berikut:

Namun, jika kesalahan pencatatan ini baru ketahui setelah tutup buku periode 2019, maka perusahaan tidak perlu membuat jurnal koreksi.
Mengapa seperti itu?
Karena kesalahan pencatatan persediaan barang dagang 31 Desember 2018, sudah diperbaiki secara otomatis dengan kesalahan pencatatan persediaan barang dagang awal tahun 2019.

Misalnya penjualan barang seharga Rp. 3.500.000 pada akhir Desember 2018 baru dicatat pada tahun 2019.
Karena barangnya sudah dikirim pada akhir tahun 2018 maka tidak termasuk dalam persediaan akhir tahun 2018.
Akibat dari kesalahan ini maka neraca dan laporan laba rugi nampak sebagai berikut :
Tahun 2018:
Penjualan terlalu kecil. Laba bersih terlalu kecil
Tahun 2019 :
Penjualan terlalu besar. Laba bersih terlalu besar
Tahun 2018 :
Aktiva terlalu kecil karena piutang tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu keci.
Tahun 2019:
Neraca benar, karena kesalahan 2018 dibenarkan oleh kesalahan 2019.
Bila kesalahan ini diketahui sesudah penutupan buku tahun 2018 maka jurnal koreksinya sebagai beriku :


Misalnya pada tanggal 1 Januari 2018 perusahaan membuat perjanjian asuransi kebakaran untuk jangka waktu 5 tahun dengan premi sebesar Rp. 500.000 yang dibayar dimuka.
Pembayaran premi di-debitkan ke rekening Biaya Asuransi dalam tahun 2018, pada akhir tahun 2018 dibuat penyesuaian yang mencatat Asuransi Dibayar di Muka sebesar saldo per 31 Desember 2019.
Bila pada akhir tahun 2018 tidak dibuat penyesuaian untuk premi asuransi maka kesalahan ini akan membawa akibat sebagai berikut :
Tahun 2018 :
Biaya terlalu besar karena tidak ada penyesuaian untuk asuransi dibayar di muka. Laba bersih terlalu kecil.
Tahun 2019 :
Biaya sudah benar. Laba bersih sudah benar.
Tahun 2018 :
Aktiva terlalu kecil karena tidak ada asuransi dibayar di muka. Laba tidak dibagi terlalu kecil.
Tahun 2019 :
Aktiva benar. Laba tidak dibagi terlalu kecil akibat kesalahan tahun 2018.
Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2019, maka kesalahan ini perlu dibetulkan dengan jurnal sebagai berikut :

Jika pada akhir tahun 2019 tidak dibuat jurnal untuk mencatat biaya dibayar di muka dan kesalahan ini baru diketahui sesudah penutupan buku tahun 2019, maka jurnal koreksinya sebagai berikut :


Misalnya bunga yang masih akan dibayar pada akhir tahun 2018 sebesar Rp. 100.000 tidak dicatat.
Akibat kesalahan ini terhadap neraca dan laporan laba rugi nampak seperti berikut :
Tahun 2018 :
Biaya terlalu kecil karena bunga tidak dicatat. Laba bersih terlalu besar.
Tahun 2019 :
Biaya terlalu besar karena bunga tahun 2018 dicatat tahun 2019. Laba bersih terlalu kecil.
Tahun 2018 :
Utang terlalu kecil karena utang bunga tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu besar.
Tahun 2019 :
Neraca sudah benar karena kesalahan tahun 2018 dibenarkan oleh kesalahan tahun 2019.
Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku tahun 2019, maka harus dibuatkan pembetulan.
Jurnal koreksi yang dibuat untuk memperbaiki kesalahan ini adalah sebagai berikut :

Jika kesalahan ini baru diketahui sesudah tutup buku tahun 2019 maka tidak perlu dibuatkan jurnal koreksi.
Karena kesalahan mencatat biaya bunga yang terlalu kecil dalam tahun 2019 sudah dibetulkan oleh kesalahan biaya bunga tahun 2019 yang terlalu besar.

Misalnya pendapatan bunga yang masih akan diterima pada akhir tahun 2018 sebesar Rp. 250.000,- tidak dicatat pada akhir tahun 2018.
Pendapatan bunga baru dicatat pada tahun 2019 yaitu pada saat diterimanya.
Akibat kesalahan ini terhadap neraca dan laporan laba rugi nampak sebagai berikut :
Tahun 2018 :
Penghasilan terlalu kecil. Laba bersih terlalu kecil.
Tahun 2019 :
Pengasilan terlalu besar. Laba bersih terlalu besar.
Tahun 2018 :
Aktiva terlalu kecil karena piutang pendapatan bunga tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu kecil.
Tahun 2019 :
Neraca sudah benar karena kesalahan tahun 2018 sudah dibetulkan oleh kesalahan tahun 2019.
Bila kesalahan ini diketahui sebelum tutup buku 2019 maka perlu dibuatkan jurnal koreksi sebagai berikut :

Jika kesalahan ini diketahui sesudah tutup buku tahun 2019 maka tidak diperlukan jurnal koreksi.
Karena kesalahan mencatat pendapatan bunga tahun 2018 yang terlalu kecil sudah dibetulkan oleh kesalahan mencatat bunga tahun 2016 yang terlalu besar.

Misalnya pada tahun 2018 diterima uang muka sewa sebesar Rp. 4.500.000 dan ada tahun 2019 diterima Rp. 5.000.000.
Penerimaan sewa ini dikreditkan ke rekening Pendapatan Sewa.
Pada akhir tiap tahun 2018 dan 2019 tidak dibuat penyesuaian untuk mencatat Pendapatan diterima di muka sebesar Rp. 3.000.000 dan Rp. 3.500.000.
Akibat kesalahan ini terhadap Neraca dan Laporan Laba Rugi nampak sebagai berikut :
Tahun 2018 :
Penghasilan terlalu besar karena pendapatan sewa terlalu besar. Laba bersih terlalu besar.
Tahun 2019 :
Penghasilan terlalu kecil karena pendapatan sewa terlalu kecil.
Tahun 2018 :
Utang terlalu kecil karena pendapatan diterima di muka tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu besar.
Tahun 2019 :
Neraca sudah benar karena kesalahan tahun 2018 sudah dibenarkan oleh kesalahan tahun 2019.
Akibat tidak dicatatnya pendapatan diterima di muka pada akhir tahun 2019 adalah sebagai berikut :
Penghasilan terlalu tinggi. Laba bersih terlalu tinggi.
Utang terlalu kecil karena pendapatan diterima di muka tidak dicatat. Laba tidak dibagi terlalu tinggi.
Jika kesalahan ini diketahui sesudah penutupan buku tahun 2019 maka tidak perlu dibuatkan koreksi karena kesalahan tahun 2018 sudah dibetulkan oleh kesalahan tahun 2019.
Kesalahan tahun 2019 yang tidak mencatat pendapatan diterima di muka belum menjadi benar pada tahun 2019 sebelum tutup buku.
Oleh karena itu perlu dibuatkan jurnal koreksi untuk membetulkan kesalahan tahun 2019 sebagai berikut :


Misalnya pada tanggal 04 Januari 2018 dilakukan reparasi kecil untuk mesin dengan biaya sebesar Rp. 2.750.000.
Biaya sebesar itu dicatat dengan mendebit rekening Mesin. Penyusutan mesin setiap tahunnya sebesar 10%.
Akibat kesalahan ini terhadap neraca dan laporan laba rugi nampak sebagai berikut :
Tahun 2018:
Biaya terlalu kecil karena biaya reparasi dikapitalisasi.
Selisihnya sebesar biaya reparasi dikurangi penyusutan biaya reparasi .
Laba bersih terlalu besar.
Tahun 2019:
Biaya terlalu besar karena penyusutan mesin terlalu besar.
Laba bersih terlalu kecil.
Tahun 2018:
Aktiva terlalu besar. Laba tidak dibagi terlalu besar.
Tahun 2019:
Aktiva terlalu besar. Laba tidak dibagi terlalu besar.
Akibat kesalahan seperti ini akan terus mempengaruhi neraca dan laporan laba rugi sampai seluruh biaya reparasi yang dikapitalisasi itu habis dibebankan.
Bila kesalahan ini diketahui pada tahun 2019 sebelum tutup buku, maka jurnal koreksi yang dibuat sebagai berikut :

Akumulasi Penyusutan tahun 2018 dan 2019 berisi depresiasi biaya reparasi sebesar :
= 2 x 10% x Rp. 2.750.000 = Rp. 550.000
Laba tahun 2018 terlalu besar sejumlah :
= Rp. 2.750.000 – 275.000 = Rp. 2.475.000
Penyusutan mesin tahun 2016 terlalu besar sejumlah :
= 10% x Rp. 2.750.000 = Rp. 275.000
Rekening mesin terlalu besar sejumlah Rp. 2.750.000
Bila kesalahan di atas baru diketahui sesudah tutup buku tahun 2019, maka jurnal koreksi yang dibuat adalah sebagai berikut :

Akumulasi Penyusutan Mesin terlalu besar sejumlah :
= 2 x 10% x Rp. 2.750.000 = Rp. 550.000
Laba tahun lalu terlalu besar sejumlah :
Tahun 2018 terlalu besar =
= Rp. 2.750.000 – Rp. 275.000 = Rp. 2.475.000
Tahun 2019 terlalu besar =
= Rp. 10% x Rp. 2.750.000 = Rp. Rp. 275.000
Koreksi Laba Tahun Lalu = Rp. 22.000
Rekening Mesin terlalu besar Rp. 2.750.000

Misalnya mesin dibeli pada tanggal 1 Januari 2018 dengan harga Rp. 20.000.000. Penyusutan mesin ditentukan sebesar 15%.
Pada akhir tahun 2019 diketahui bahwa taksiran umur mesin tersebut terlalu rendah sehingga seharusnya penyusutan per tahun adalah 10% dari harga perolehan.
Kesalahan ini adalah merupakan perubahan taksiran akuntansi, sehingga biaya depresiasi yang sudah dibebankan tidak dikoreksi.
Koreksi mulai diperlakukan untuk penyusutan tahun 2019 dan seterusnya.
Dengan cara ini tidak ada jurnal koreksi yang dibuat.
Jurnal untuk mencatat penyusutan tahunan sejak tahun 2019 adalah sebagai berikut :


Misalnya perusahaan mengakui kerugian piutang pada saat piutang tidak ditagih (metode Penghapusan Langsung).
Pada tahun 2018 dan 2019 kerugian piutang yang sudah diakui sebagai berikut :

Selain kerugian piutang yang sudah diakui tahun 2018 dan 2019 di atas, diperkirakan masih ada lagi piutang yang akan tidak dapat ditagih sebesar :
Piutang tahun 2018 Rp. 24.000
Piutang tahun 2019 Rp. 28.000
Akibat kesalahan mengetahui kerugian piutang tahun 2018 akan berakibat terhadap jenis laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi tahun 2018 dan 2019 sebagai berikut :
Tahun 2018 :
Biaya terlalu kecil karena kerugian piutang terlalu kecil. Laba bersih terlalu besar.
Tahun 2019 :
Biaya terlalu besar karena kerugian piutang tahun lalu dibebankan sekarang. Laba bersih terlalu kecil.
Tahun 2018:
Aktiva terlalu besar karena tidak ada cadangan kerugian piutang. Laba tidak dibagi terlalu besar.
Tahun 2019:
Aktiva terlalu besar karena tidak ada cadangan kerugian piutang.
Laba tidak dibagi terlalu besar karena laba bersih tahun lalu terlalu besar hanya sebagian yang diimbangi laba tahun sekarang yang terlalu kecil.

Perlu diperhatikan bahwa kesalahan dalam kerugian piutang belum tentu akan benar dengan sendirinya pada tahun-tahun yang akan datang.
Oleh karena itu perlu dilakukan analisa untuk menentukan jurnal koreksi.
Kesalahan pengakuan kerugian piutang dalam tahun 2019 berakibat terhadap neraca dan laporan laba rugi seperti berikut :
Tahun 2019:
Biaya terlalu kecil karena kerugian piutang terlalu kecil. Laba bersih terlalu besar.
Tahun 2019:
Aktiva terlalu besar karena tidak ada cadangan kerugian piutang. Laba tidak dibagi terlalu besar.
Bila perubahan metode kerugian piutang dilakukan dalam tahun 2019 maka jurnal koreksinya sebagai berikut :


Bila perubahan metode ini dibuat pada tahun 2019 maka jurnal koreksinya adalah sebagai berikut:

Sesudah saldo cadangan kerugian piutang dikredit sebesar Rp. 54.000 .
Maka pada akhir tahun 201 9akan dikredit dengan jumlah Rp, 28.000 dan di-debit dengan jumlah piutang yang dihapus sebesar Rp. 30.000.
Sehingga saldonya menjadi Rp. 52.000 pada awal tahun 2019.
Demikianlah 10 kesalahan yang sering terjadi saat menyusun laporan keuangan. Kesalahan dan keterbatasan laporan keuangan bisa dikoreksi serta diperbaiki sesuai prosedur dan standar akuntansi keuangan yang berlaku.
so, tak perlu galau, yang terpenting tetap terus berupaya dan belajar serta JUJUR dalam menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan, bukan membuat BUNTUNG menjadi UNTUNG atau sebaliknya.

Setelah melakukan koreksi terhadap pos-pos yang salah, apakah perlu MENYUSUN KEMBALI Laporan Keuangan?
Penyusunan kembali laporan keuangan diperlukan bila akan dilakukan analisa perbandingan laporan keuangan dari beberapa periode yang berurutan.
Untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan yang disudah diperbaiki, biasanya disusun neraca lajur dengan kolom-kolom sebagai berikut :
Masing-masing kolom di atas dibagi lagi menjadi 2 kolom yaitu debit dan kredit.
Melalui neraca lajur ini dapat disusun Neraca dan Laporan Laba Rugi dengan lebih mudah.
Dan untuk menambah wawasan serta pengetahuan tentang jurnal koreksi, yuk tonton video pembelajaran yang disampaikan oleh FEB Universitas Brawijaya Malang berikut ini…
Sekali saya sampaikan bahwa kesalahan bisa saja terjadi, walaupun kita sebagai penyusun laporan keuangan telah berusaha keras untuk menghindari kesalahan tersebut.
Keterbatasan Laporan Keuangan pun ada.
Namun kesalahan dan keterbatasan itu ada jalan keluarnya, ada prosedur untuk memperbaiki, ada metode untuk mengurangi keterbatasan
Jadi tetap cool dalam menghadapi persoalan laporan keuangan, selalu ada jalan untuk menyelesaikannya 🙂
Bila anda ingin memahami secara utuh tentang sistem keuangan, saran saya baca artikel: SOP Keuangan.
Bagaimana menurut Anda?
Demikian yang dapat saya sampaikan, pembahasan tentang 10 kesalahan pencatatan akuntansi dan cara memperbaikinya dengan jurnal koreksi.
Semoga bermanfaat dan terima kasih. *****